Oleh: kaveleri | 9 Maret 2011

Mengambil Jalur Orang Lain

Mengambil jalur orang lain banyak kita temui di jalanan Jakarta. Hal ini banyak terjadi di jalan dua arah yang tidak terdapat separatornya.

Ketika volume kendaraan meningkat dan ruas jalan yang dilalui kurang memadai, secara alamiah kendaraan cenderung mencari jalan yang lebih longgar, apalagi jalur yang berlawanan kosong.

Pengendara yang sedang terburu-buru, entah itu karena kesiangan atau karena hal yang lebih penting, cenderung mengoptimalkan waktunya di jalan dengan disertai sedikit pelanggaran aturan asal cepat sampai tujuan.

Etika pengendara juga berperan dalam memarakkan fenomena mengambil jalur ini. Latar belakang pengendara yang berbeda-beda dan suasana jalanan yang panas, baik secara denotatif maupun konotatif, akan mempengaruhi etika pengendara kendaraan bermotor.

Seperti kejadian tadi pagi, aku sukses malu di depan banyak orang. Di jalur sempit setelah tikungan di daerah Pagelarang aku terpaksa mundur dan masuk trotoar sebelah kanan jalan karena menutupi jalan dari arah berlawanan. Malu nian aku, malu bukan buatan. Aku terpaksa mengambil jalur terlalu ke kanan dengan alasan memang aku terburu-buru, mengejar absensi. Alhamdulillah masih dapat absensi, masih tersisa 19 detik lagi.

Lesson learned: jangan suka mengambil jalur orang lain dan jangan suka terburu-buru karena kesiangan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: