Oleh: kaveleri | 27 September 2009

Di Desa dan di Kota

Seminggu berlibur di desa, berikut pendapatku mengenai desa dan kota.

Udara di desa lebih segar dan lebih dingin daripada udara di kota. Lebih segar karena belum terlalu banyak polusi udara dan lebih banyak pepohonan. Lebih dingin karena desaku terletak di dataran tinggi, di kaki gunung. Apalagi di musim kemarau ini, udara semakin dingin.

Aku, Ummu Mudrik, dan Mudrik yang baru datang dari kota merasakan kedinginan yang sangat. Mudrik jadi malas bangun pagi karena kedinginan. Dia yang tidak mau diselimuti waktu tidur di kota sekarang mau tidur berselimut, padahal di kota dia tidur di bawah penyejuk ruangan yang menyala. Kebiasaanku di desa setelah bangun tidur adalah duduk di dekat pawon, perapian di dapur berbahan bakar kayu untuk memasak. Kalau matahari sudah terbit, bisa juga dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi, istilah desanya adalah dede (de dibaca seperti mengeja huruf ‘D’ pada alfabet). Ini adalah caraku untuk menghangatkan badan karena pantang orang di desa tidur lagi setelah bangun pagi.

Berikutnya, aktivitas ekonomi di desa kebanyakan adalah pertanian. Sekarang masa panen, sedikit banyak aku juga ikut merasakan sengatan matahari di sawah dan gatalnya kulit bergumul dengan jerami dan gabah. Ikut memanen padi dan menjemur gabah adalah sebagian aktivitasku di desa. Di kota, aktivitas ekonominya tidak sekasar pekerjaan di desa. Namun begitu, nilai ekonominya lebih tinggi. Orang-orang kota dengan hanya duduk di bangku di ruangan ber-AC mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi dengan orang-orang desa yang berpeluh keringat dibakar matahari dengan tenaga terkuras.

Di desa paguyuban sangat kuat. Orang satu desa bagaikan satu saudara. Jika ada yang hajatan seluruh warga terlibat. Shahibul hajat akan sangat terbantu oleh tetangganya yang bergotong-royong baik itu mengedarkan undangan, menyiapkan perlengkapan, memasak, menghidangkan masakan, hingga membantu menyambut tamu. Kalau di kota, orang pada nafsi-nafsi. Semua peran tetangga harus dibayar mahal dengan uang untuk menyewa gedung dan catering.

Semua orang di satu desa saling kenal, sedangkan orang kota kadang tidak kenal dengan tetangga sebelah rumah. Ini mengakibatkan kota lebih rawan kriminalitas dan penyakit masyarakat karena minimnya kontrol sosial.

Salah satu nilai minus desa dibanding kota adalah masalah keyakinan, belief. Ini adalah masalah yang menurutku paling mendasar. Kurangnya ilmu agama membuat sebagian orang desa mudah terjerumus ke dalam kejumudan dan penyimpangan. Barang siapa menginginkan dunia, harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat juga harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan dunia dan akhirat harus juga dengan ilmu. Menanam padi saja harus dengan ilmu, apalagi ibadah. Ibadah tidak bisa asal, tetapi harus dengan ilmu. Fenomena kesyirikan dengan sesaji dan punden walaupun sudah berkurang masih perlu diwaspadai. Kita tahu dosa paling besar adalah syirik. Di desa agama mungkin masih belum merupakan hal yang paling utama, masih kalah dengan paguyuban. Jika paguyuban di desa bisa diselaraskan dengan nilai-nilai agama, akan membuat kekuatan desa sangat dahsyat.


Responses

  1. Hi salam kenal,
    Blognya bagus!!!

    Kunjungin blog saya,

    http://dithoap.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: