Oleh: kaveleri | 28 Juni 2009

Syahid dan Sakit

Aku pernah membayangkan syahid, tetapi Allah memberiku sakit.

Aku membayangkan mati syahid yang menyisakan wangi harum di jejak tempat hidupku. Aku membayangkan jasad yang sangat ringan digotong orang-orang dengan muka tersenyum.

Setelah itu aku jatuh sakit. Selama sepekan aku sakit beberapa penyakit. Pertama seperti demam atau masuk angin, badan panas dan pinggang kiri pegal sekali. Malam itu aku tidak bisa tidur tenang. Istriku sampai heran, tidak biasanya aku sakit berisik sepanjang malam.

Keesokan harinya pegal di pinggang sudah membaik, tinggal demam, itu pun waktu ke klinik dan diperiksa dokter aku sedang tidak demam. Ketika ngantor pun aku masih sedikit demam. Selepas makan dan minum obat aku tidur saja di sofa belakang. Semoga bangun tidur nanti lebih baik. Sampai dua kali aku terpaksa tidur di kantor karena sakit ini.

Kemudian muncul pembengkakan di markas pertahanan tubuhku. Kelenjar getah bening di pangkal paha, bawah rahang bawah, belakang telinga, kepala belakang bagian bawah, sampai ketiak pada bengkak. Aku sampai bertanya pada temanku, seorang dokter, tentang pembengkakan semua kelenjar limfa. Dia menjelaskan biasanya pembengkakan itu hanya lokal terdekat dengan infeksi, bukan semuanya membengkak. Waduh.

Selain itu aku juga menderita sariawan. Memar di jari manis kakiku pun baru sembuh.

Hari Kamis siang sewaktu berwudhu aku melihat banyak bercak merah di kedua lenganku. Kedua daun telingaku merah dan panas. Sepertinya terjadi pertempuran yang hebat di dalam tubuhku. Mungkin inilah mengapa kelenjar limfaku melakukan konsolidasi dengan sangat intensif sehingga bengkak semua.

Khawatir bertambah parah, setelah shalat aku memacu motorku ke dokter sekalian periksa darah. Alhamdulillah trombositku masih aman, walaupun ada sedikit gejala paratipus. Setelah menebus obat aku kembali ke kantor.

Malam harinya aku masih merasakan sedikit demam ditambah pembengkakan di telapak tangan dan kakiku. Bercak merah bekas pertempuran pasukan di tubuhku melawan penyakit makin banyak, merembet dari kepala ke kaki.

Besoknya aku putuskan opname di rumah sakit supaya tidak lebih parah. Pagi-pagi istri sudah menyiapkan baju ganti dan lain-lain termasuk menyewa taksi yang akan mengantarkan kami ke UGD sebuah rumah sakit pemerintah. Aku takut ke rumah sakit swasta di Jakarta ini karena takut tidak bisa membayar biayanya.

Setelah ditensi dan diambil sampel darah, aku menunggu hasilnya kurang lebih satu jam. Alhamdulillah aku tidak perlu menginap di rumah sakit. Tenyata aku sakit campak dan bercak-bercak merah di kulit itu adalah tanda baik, ayat al khair. Setelah keluar itu merah-merah, insya Allah sembuh. Sekarang aku dalam masa penyembuhan, istirahat total di rumah. Tinggal kakiku saja yang belum kuat berlama-lama berdiri. Dan apabila aku sakit, Allahlah yang menyembuhkanku. Amin.


Responses

  1. masih sy kopi doang blum ane baca. Im sorry


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: