Oleh: kaveleri | 25 Maret 2009

Berkemah 2

Sabtu, 17 Juni 1995
Let’s continue.
Tampaknya Boorham dan Tri kurang tidur. Pukul 5.30 adalah acara lari pagi. Yang berada di jajaran depan adalah sebagian anak-anak 1.4. Setelah itu kami mandi pagi. Aku, Sugeng, dan Satria mendapat giliran paling belakang. Kami bertiga di tenda menunggu teman-teman lain mandi. Lama sekali menunggu. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat karena Badrus sudah kembali. Selesai mandi anak-anak lain sudah mulai berkumpul untuk apel pagi. Kami bertiga berlari ke tenda dan bersembunyi di situ.
Acara selanjutnya adalah PMR. Teman-teman uyang mengikuti apel pagi setelah kembali ke tenda bersikap sungguh menyakitkan hati. Aku mencoba meredam elektrodinamis dalam tubuhku. Aku pun enggan berbicara dengan mereka. Biar, kalau aku tidak digunakan aku tidur saja di tenda. Ternyata mereka ingin bekerja sendiri. Aku harus membesarkan hatiku yang volumenya mengecil karena hal itu. Lalu secara tidak langsung –mereka tidak mau berbicara denganku– mereka menyuruhku mengerjakan karya tulis dengan tempo tidak lebih dari 14 jam. This is a very hard work if I do it alone. Aku dan beberapa anak lainnya tinggal di tenda. Mereka yang lain mengikuti lomba PMR. Lalu aku pun bersiap-siap mengerjakan the very hard work tatkala mereka menyuruhku mengikuti lomba dengan mereka. Perasaanku masih tidak enak karena sikap mereka belum juga berubah. Selesai lomba aku melanjutkan mengerjakan karya tulis dengan Tri, Totok, Muchtar, Setyoko, dan Satria. Anak-anak lai dengan pimpinan Boorham go out.
Sore hari pekerjaan kami belum selesai walaupun pikiranku sudah terkuras. Anak-anak yang lain sudah pulang. Boorham kelihatan sangat lelah, pucat, dan bingung. I’m sorry Ham! Setelah memberikan instruksi dia tertidur kelelahan. Sore itu ada pertandingan bola voli tepat di sebelah abrat tenda kami. Aku dkk. Menonton pertandingan itu dari tenda.
Ketika mandi sore kami diberi minuman oleh orang yang kami tumpangi mandi. Masyarakat di sana masih memelihara cirri khas nasional. Pukul 7.30 malam diadakan pengajian sampai dengan pukul 10 malam. Banyak anak yang tertidur. Aku pun hamper dtidak bisa menormalkan kesadaranku supaya tidak mengantuk. Sekarang hubunganku dengan mereka sudah normal. Kami tidur pukul setengah sepuluh malam. Pukul setengah satu atau satu pagi kami mengadakan jelajah malam tanpa senter. Sangga kami termasuk golongan belakang. Karena kebodohan, kami tidak bisa mencari tanda-tanda jalan. Lalu setelah tertinggal satu jam kami mengulangi lagi. Di pos dekat pemakaman hanya beberapa gelintir orang saja yang tampak dengan suara yang dibuat-buat tegas itu.
Sesampai di perkemahan kami membentuk formasi obat nyamuk yang terbalik. Obat nyamuk akan habis sedikit demi sedikit dari luar, tetapi formasi itu habis satu per satu dari pusat. Pak Rahardjo memimpin berdoa. Banyak anak dan senior yang menangis, entah sungguh-sungguh entah aksi-aksian saja. Suasana pilu itu ditambah pilu lagi dengan dinyanyikannya lagu Syukur. Sambuil menyanyikan lagu itu kami bersalam-salaman dan berpelukan secara teratur.
Pagi itu kami akan cabut dari perkemahan. Ba’da subuh aku kembali ke tenda. Lalu aku dan Muchtar kembali ke masjid. Aku menunggunya sholat di depan pekarangan dengan duduk menghadap ke timur. Muchtar sudah kembali. Kami menatap lentera penduduk di jarak 25 meter jurusan 020.
Lalu aku diajak mengisi perut oleh Muchtar di warung pinggir jalan sebelah abrat. Tri dan Sugeng menyusul. Lalu kami berempat kembali ke tenda.
Pasak-pasak dicabuti dan tenda dilipat. Sebagian dari kami pulang lebih dahulu naik Sendang Mulyo. Sebagian yang lain menunggu jemputan. Pinsa-pinsa dipanggil ke secretariat, ada seorang gadis kehilangan gelang emasnya. Pinsa-pinsa disuruh menggeledah tas anak buahnya.
Kami pulang naik truk pertama. Yang patut disayangkan adalah kami bercampur dengan kaum akhwat dan tas saya dijadikan jok yang empuk oleh Bowo. Pukul depalan lebih beberapa menit kami sampai di sekolah. Kami (I, Larto, Muchtar, Boorham, dan Setyoko) memutuskan untuk jajan dulu, tetapi urung karena warung tutup.
Dalam kendaraan aku merasa sangat mengantuk. Anak-anak lain yang ikut kemah pun begitu. Sesampai di rumah aku makan pagi lalu amndi. Pukul Sembilan tiga puluh aku tidur secara estafet dan bangun pukul lima sore. Ba’da Maghtib aku nonton televisi lalu ketiduran di serambi depan sambil mendengarkan pengajian di masjid.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: