Oleh: kaveleri | 3 Juli 2008

Pengalaman Pertama Donor Darah

Kemarin adalah pengalamanku pertama kali mengikuti donor darah. Kegiatan yang menjadi program rutin Masjid Shalahuddin itu telah berlangsung beberapa kali. Walaupun beberapa tahun yang lalu aku menjadi salah satu panitia donor dara, tetapi aku belum berani untuk mendonorkan darahku.

Kemarin aku memberanikan diri mengikuti donor darah. Mendaftarkan diri jam 11 kurang, aku mendapatkan nomor urut 111 (nomer cantik). Bersama Pani dan Yogy, kami menunggu giliran ditusuk jarum oleh petugas PMI.

Pani sudah pernah mengikuti donor darah sebelumnya, sedang bagiku dan Yogy ini merupakan pengalaman pertama.

Yogi yang terlihat tegang aku godain saja. Tangannya dingin. Dia heran karena aku tidak kelihatan tegang. Aku jawab saja, tegangnya jangan sekarang, nanti saja kalau sudah dekat. Emang tegang bisa diatur, timpalnya. Kita tertawa-tawa.

Giliran aku dipanggil untuk tes golongan darah, ku ditanya oleh petugas donor, golongan darahnya apa. Aku jawab Nol (0). O, koreksi petugas donor itu sambil mengambil sampel darahku dari jari tengah tangan kananku. Kok ini hasilnya A, bukan 0, tanya petugas tersebut. Aku jawab saja, dulu seingat saya waktu sekolah golongan darah saya nol Bu. Apa mungkin berubah kali? Mosok berubah, lihat ini. Ini yang menggumpal kan, katanya sambil menunjukkan gumpalan darahku setelah dicampur dengan zat apa aku lupa. Pani ketawa saja melihatku yang salah tetapi masih ngeyel. Setelah itu tekanan daranku ditensi. Alhamdulillah lolos.

Setelah menunggu beberapa lama, giliran untuk disedot darahku tiba. Si Pani dan Yogy sudah selesai dan sedang dengan lahapnya menyantap mie telor dan segelas susu, makanan khas dari PMI.

Sekitar lima menit darahku disedot, aku menyusul mereka berdua menikmati mie telor dan susu coklat. Alhamdulillah, segar.

Ba’da Dzuhur aku mengajak Pani makan kambing (disarankan banyak orang untuk dimakan setelah donor), bukan sate, melainkan tongseng. Kenyang juga ini perut. Alhamdulillah. Langsung tidak kembali ke kantor, aku ke TB Simatupang untuk tugas negara. Setelah itu aku sempatkan memberikan susu kotak dari donor tadi untuk Mudrik. Anakku ini suka nanyain, Abi, mana oleh-oleh.

Sebenarnya aku takut kalau aku mengantuk atau pusing setelah donor darah tadi. Alhamdulillah tidak. Aku masih bisa menarik kabel gas motorku menyusuri TB Simatupang, Pasar Rebo, Hek, Tamini, sampai rumah, lalu sorenya kembali lagi ke kantor.


Responses

  1. aslm

    salam kompak🙂
    kmrn aq jg donor, goldar ku O…

    btw, ponakan ku dh bs ap aj?
    mba nia sehat?

    btw, trims bantuanny y kmrn…aq dh telp mas cecep dan acarany sukses abezz

    btw kemaren aq kecopetan…so bs tlg sms no mas ndak ke 992XXXXX?

    jzklh ya mas

    wulan

  2. waálaikumus salam wrwb,

    Turut bersedih atas musibah yang mbak wulan alami. semoga copetnya cepat tobat dan jadi orang baek.

    Alhamdulillah kami sekeluarga baik. Ponakan mbak wulan sudah bisa diajak ngobrol, bisa naik sepeda, bisa main bulu tangkis, bisa makan sendiri, pokoknya nyenengke deh. Lihat saja blognya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: