Oleh: kaveleri | 26 Desember 2007

Syahwat Telepon

Sekarang, banyak kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai operator telepon. Ada operator yang menawarkan tarif satu rupiah per detik, setengah rupiah per detik, satu rupiah per menit, seribu per jam, hingga nol rupiah alias gratis tis tis.

Akibatnya, banyak orang yang berlama-lama berbicara di depan pesawat telepon. Walaupun zaman dulu pun, banyak juga yang hobi berlama-lama bicara di depan telepon. Kalau sekarang siasatnya dengan menyamakan operator selulernya (karena biasanya tarif jauh lebih murah), dulu dengan cara berebut waktu “murah” bertelepon, yaitu sebelum jam enam pagi.

Kebiasaan masyarakat pun bergeser, dari sekedar menyampaikan informasi, menanyakan kabar, dan hal-hal yang “penting” lainnya, menjadi hobi ngobrol, ajang curhat, dan sejenisnya yang bisa dibilang kurang “penting”.

Setidaknya, berdasarkan ingatanku, aku baru tiga kali bicara di depan pesawat telepon dalam waktu yang lama, setengah jam lebih.

Pertama, dengan seorang akhwat, satu panitia walimahan teman. Kedua, dengan akhwat juga, calon isteriku. Dan ketiga, dengan seorang ikhwan yang baru aku kenal.

Untuk yang pertama, aku memang tidak hobi ngobrol, apalagi dengan akhwat. Walaupun di kampus dulu cukup sering berhubungan dengan akhwat karena satu aktivitas, aku jarang bicara di telepon. Apalagi berlama-lama, bisa grogi dan mati kutu aku.

Nah, ketika sudah lulus, teman-teman pergaulang beda lagi. Suasana di kantor dan lingkungan lebih cair daripada di kampus dulu. Walaupun begitu, aku tetap saja nggak bisa berlama-lama menelepon seseorang, apalagi akhwat. Jaim lah!

Hingga pada suatu hari, ada teman kantor yang mau menikah. Aku jadi salah satu panitianya. Selanjutnya, diadakan rapat-rapat koordinasi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Berawal dari situ lah, akhirnya pernah sekali aku ditelepon cukup lama oleh seorang akhwat. Itu kejadian enam tahun silam.

Kejadian kedua, tidak lama berselang setelah kejadian pertama, yaitu dengan calon isteriku. Biasa, namanya juga masa taáruf, media telepon pun jadi alternatif untuk mengenal lebih jauh calon isteri.

Akhirnya, aku menyadari bahwa berlama-lama bicara di telepon tanpa urgensi yang memang penting akan mudah menjerumuskan kita ke syahwat telepon. Astaghfirullah al-adziim.

Semoga kita dijauhkan dari syahwat telepon ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: