Oleh: kaveleri | 5 Desember 2007

Hati-hati, Lho! (Part 2)

Jumat, 24 Maret 1995

Kita lanjutkan cerita hari Minggu.

Setelah mulung gabah di ahlaman rumah, aku bergegas pergi ke halaman Haryono untuk membantu mulung gabah di sana. Mas Heri dan Mas Ranto juga sedang melakukan kegiatan yang sama di rumah Mas Eko.

“Ndang mulih, adus, Mok!” kata Mas Ranto setelah aku istirahat di rumah nenek sebentar. Aku hanya tersenyum. Di depan masjid ketika aku berjalan pulang Yuli, Bu Mur, dab seorang lagi berjalan ke utara, 10 meter di depanku. Yuli menanyakan kepadaku tentang pelajaran Fisika. Kami pun berbincang-bincang sebentar.

Aku sampai rumah kira-kira pukul 14.00. Lalu kau menyapu halaman rumah dan seterusnya.

Senin pagi setelah upacara bendera (T=01:40) anak-anak 1.4 sibuk menyelesaikan tugas Fisika. Sesudah makan siang dan sholat Dzuhur Sugeng menahanku. Tentu ada sesuatu. Rupanya dua akhwat di depan Sugeng akan emngatakan sesuatu tetapi malu. Lalu mereka menulis sesuatu di kertas kepadaku. Kertas itu bertuliskan ajakan mereka untuk belajar bersama.

I’m sorry, aku tidak dapat meluluskan permintaan (D) atau penawaran (S) mereka. Tahu sendiri, dong!

Pulang sekolah aku dan teman-teman berjalan di trotoar sebelah kiri. Ayu’memanggilku dari belakang. Dia berjalan bersama Astri. Astri ingin jawaban atas tawarannya tadi. Kukatakan padanya besok pagi saja. Boorham mengecap aku biyueiwayei. Sialan! Tetapi aku tidak marah. Memalukan menghadapi hal seperti itu harus dengan marah. Aku hanya menerapkan hukum Islam. That’s my reason.

Keesokan harinya kedua akhwat itu marah tak tampak. Mereka diam tak menyapa. Tak apalah!

Hari Rabu agak jelek bagiku.

Kari Kamis Pak Rahardjo memberika pelajaran meroda. Aku paling tidak bisa, bahkan mengalami cidera sebelum dinilai.

(sekarang pukul dua pagi)

Tadi pagi aku membonceng Mas Marso. Hari ini tidak ada SKJ. Aku belum belajar Biologi. Menurut perkiraanku nilaiku tidak lebih dari 6. Pelajaran ihari ini kurang menyenangkan.

Pukul 10.15 aku pulang. Kendaraan penuh sesak tetapi tidak sesesak hatiku. Sesampai di rumah aku berusaha menghilangkan stress dengan nonton teve dan amkan siang. Aku mandi, lalu pergi ke masjid.

Ba’da Jumat aku segera berangkat lagi ke sekolah. Ketika baru 200 meter keluar rumah, Mas Gito mengajakku berangkat bersama. Alhamdulillah!

Di perjalanan Mas Gito mengajakku berbincang-bincang tentang masa depan dalam arti sempit.. Jam sore terasa lebih menyenangkan daripada jam pagi akrena jam pertama dan terakhir kosong. Istirahat sore diisi pengajian oleh Akh Amir.

Lalu aku dan Muchtar membasuh muka. Banyak anak yang menyublim karena besok libur, kelas digunakan untuk ujian D3. Di depan kelas 1.6 aku ditanya Yuli apakah aku tidak ikut pulang. Kujawab tidak tentunya. Setengah dari jumlah anak putra kelasku telah membolos. Mbak Wiwin malah mengujiku. Jika aku berani (menyublim), dia berjanji akan memberiku sesuatu. Bagaimana, ya? Aku takut menyublim karena tidak sesuai dengan niatku.

Jam terakhir diisi guru BP. Kami mendapat tugas megnerjakan 100 butir soal dalam 40 menit. Manipulasi. Boorham meminjam pekerjaan Astri (80% sudah jadi). Tanpa banyak komentar kami mengkopi pekerjaan itu. Sebenarnya kami tahu keadaan. Aku dan Boorham mengerjakan nomor 67 s.d. 100, meja Tri nomor 34 s.d. 66, dan meja Sugeng nomor 1 s.d. 33. Tetapi karena sulitnya soal, aku hanya bisa mengerjakan tiga nomor.

Setelah mengkopi pekerjaan Astri, kami mengkopi pekerjaan Amri. Jadi, deh!

Pulang sekolah, kasihan Astrii sendirian menunggu Ayu’ di depan kelas 1.6. Aku dan Tri menunggu kendaraan di sebelah timur R2L2. Kami mendapatkan kendaraan bertepatan dengan Mahastini baru sampai. Dia langsung naik. Mahastini dan Tri memilih duduk di belakang. Aku duduk dekat pintu.

Di depan SMA Ninja Cokelat duduk di samping kiriku. Aku melihat jendela terus, takut salah berbuat. Penumpang makin banyak.

Di Kerten kendaraan berhenti cukup lama. Teman-temanku sedang duduk di sebelah selatan. Mereka abgaimana, begitu, karena melihat Ninja di sampingku. Padahal aku belum kenal dengan Ninja ini. Saat turun secara tak sengaja tanganku menyentuh kerudungnya. Tentu dia marah. I’m sorry, Brown Ninja! Adi jadi kenek di luar. Kasihan, pasti dia sudah kelelahan.

Sampai di sini dulu, ya! Aku harus pergi tidur sekarang.


Responses

  1. Boleh juga nich dijadikan cerita pendek..! huehehe-2

  2. he he ini mah cuma kenangan waktu sma dulu saja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: