Oleh: kaveleri | 30 Oktober 2007

Peta Kehidupan

Aku pernah pulang ke mertua naik motor lewat pantura. Ketika berangkat dari Jakarta tidak tersesat, tetapi begitu balik kembali ke Jakarta aku dua kali nyasar. Pertama hampir masuk jalur tol, sedangkan yang kedua di Bekasi. Pikirku aku melewati jalur Kalimalang, ternyata bukan. Terpaksa puter balik. Mana hari itu panas terik lagi. Pernah juga dulu bareng-bareng naik mobil mau kondangan ke Purworejo, eh nyasar juga ke Cilacap. Ternyata untuk ukuran se-Pulau Jawa saja kita bisa saja nyasar alias tersesat di jalan. Untung bisa kembali ke jalur semula. Apalagi kalau kita menempuh perjalanan lebih jauh lagi, antarpulau, antarnegara, antarbenua.

Inilah pentingnya peta dan rute perjalanan. Dengan peta ini kita bisa menentukan posisi kita berada dan kita seharusnya melewati jalan yang mana agar sampai di tujuan. Ingat film kartun Dora the Explorer kan? Si Dora tuh punya senjata sakti di tas ranselnya yaitu peta. Maka wajarlah para pemudik, terutama yang membawa kendaraan sendiri, membekali diri mereka dengan rute, seperti rute Jawa dan Sumatera.

Memang ada orang-orang yang tidak membawa peta ketika melakukan perjalanan antarkota antarpropinsi, seperti sopir bus, sopir truk, atau orang-orang yang sudah terbiasa melewati rute perjalanan. Tetapi untuk orang-orang yang jarang melakukan perjalanan, atau bahkan baru sekali melakukannya maka peta perjalanan adalah mutlak diperlukan. Pilihan lain adalah ikut armada yang memang sudah biasa melakukan perjalanan tersebut.

Kehidupan ini juga sebuah perjalanan yang mempunyai tujuan. Berbeda dengan perjalanan di atas, perjalanan kehidupan ini hanya dilakukan sekali saja oleh setiap manusia. Jadi, ketika seorang manusia sudah melakukan perjalanan, dia tidak akan bisa kembali lagi dan mengulangi perjalanannya tadi. Finish perjalanan kehidupan ini adalah kematian. Sebelum sampai finish, manusia bisa kembali ke jalur yang benar. Tetapi setelah finish, dia sudah tidak mendapatkan kesempatan untuk kembali.

Sepanjang perjalanan banyak cabang jalan yang harus kita pilih. Ada juga tanjakan, turunan, kelokan, jalan terjal, licin, dan sebagainya. Jika kita tidak berhati-hati, bisa saja kita tergelincir, jatuh, menabrak pohon, atau salah jalan. Sangat tidak bijak kalau kita tidak mengindahkan rambu-rambu lalu-lintas yang dibuat untuk keselamatan kita.

Sebelum melakukan perjalanan kita pun harus mempersiapkan perbekalan agar sampai di tujuan. Perbekalan ini mulai dari kendaraan kita yang harus dalam kondisi baik, dana untuk membeli makanan dan bahan bakar di jalan, sampai kondisi diri kita sendiri juga harus sehat.

Bayangkan jika kendaraan kita ternyata remnya tidak berfungsi, atau bannya meletus, sedangkan kita tidak cukup membawa dana (termasuk atm maupun kartu kredit) untuk memperbaikinya. Tentu kita akan mengalami kesulitan.

Peta perjalanan kehidupan kita ini adalah Al-Qurán, firman Allah Pencipta kehidupan ini. Di situlah terdapat peta kehidupan lengkap dengan rambu-rambu perjalanan dan bekal yang harus kita persiapkan. Maka, marilah kita patuhi rute dan rambu-rambu di dalamnya agar kita bisa sampai di tujuan dengan khusnul khatimah.


Responses

  1. Kok ro’yu aja si? dalil quran sunnah nya manna?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: