Oleh: kaveleri | 6 Juni 2007

Lebaran

Selasa, 7 Maret 1995
Kamis sore, kami, remaja masjid, mendapat tugas mengurusi pembagian zakat fitrah dari ba’da Ashar hingga menjelang Maghrib. Tugasku menimbang beras bersama Mas Heri dan Widodo. Sedangkan yang lain mendapat tugas membagikannya. Ba’da Maghrib suara takbir sudah dikumandangkan untuk mengagungkan nama Allah SWT. Jama’ah Isya hampir memenuhi Masjid An-Nur. Setelah itu kami membagikan makanan kepada jamaah. Aku, Narto, dan Giyo menukar beras zakat yang kurang dari 10 kg dengan uang di rumah Ibu Mur. narto dan Giyo kembali ke masjid dengan membawa uang,s edangkan aku belok kanan untuk pulang. Sesampai di jalan depan rumahku, kulihat Purwanti juga sedang pulang menuju rumahnya. Kesempatan, aku akan mengambil foto miliknya pada waktu di Lik Ita dulu.

Hujan turun. Pur menawariku payung setelah memberikan foto itu karena hujan maikn deras. Aku menolak tawaran itu karena hanya merepotkan saja. Lagi pula jarak rumahku dan rumah Pur kan dekat. Aku berlari pulang dan tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup. Tomo masih mengikuti takbiran sedangkan Mbak Uwit sudah tidur bersama nenek. Ibu dan Ayah masih di pasar.

Giyo menyusul ke rumah. Aku memintanya memperbaiki katingku yang sangat jelek.

Hari Juamt aku memakai baju baruku yang baru berada di tanganku satu jam yang lalu dan belum dicuci maupun diseterika. Bersama haryono dan Yatmo aku pergi ke tanah lapang lewat jalur utara. Pada shalat Ied itu aku berdiri di shaf terdepan. Kotak infaq penuh uang sampai-sampai 3 shaf akhwat tidak berkesempatan memberikan infaq lewatnya. Aku dan Giyo pulang leawt jalur selatan dengan membawa plastik. Mimbar, tikar, dan sound system dibawa kembali oleh anak-anak yang lain.

Pukul tujuh seperempat aku pergi ke pasar membantu ibu. Aku dan Ibu Yatmo daik Sendang Mulyo ke Dadapan. Ibu berkata bahwa ada teman SMP-ku (Ninja) bersama adiknya berjalan ke abrat sewaktu aku ke timur, habis membeli tahu. Pulang dari pasar, beberapa Ninja yang duduk di jok belakang kelihatan berbisik-bisik mengomentariku. Cuek!

Baru pukul setengah sepuluh aku sudah merasa gerah dengan pakaian lengan panjang yang kupakai.

Hari ini inu dan Mbak Uwit masak besar. Aku berbenah kamarku yang ebrantakan. Ba’da Maghrib ada kenduren dirumah Pak Kaling. Sandalku hilang satu. Kucari terus tetapi yang kutemukan hanya sandal orang lain yang mirip dengan milikku.

Tradisi di kampungku, malam lebaran kedua warga kampung saling bersilaturahmi. Tetapi malam itu agak sepi, hanya beberapa warga saja yang melakukan hal itu. Mungkin karena aku tidak operasi makanan seluruh kampung, anak-anak yang lain juga tidak nongol. jia: yu, moko!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: