Oleh: kaveleri | 30 Mei 2007

Hati-hati, Lho!

Sabtu, 14 januari 1995

Banyak nilai yang mempunyai nilai cukup bagus untuk kuabadikan dalam buku ini. Tahun baru ditandai dengan hujan selama lima hari berturut-turut. Dari tanggal 2 sampai 7 Januari aku duduk di belakang Mbak Mila dan Mbak Wiwin. Aku dan Ronny sering meminjam segala sesuatu dari mereka, seperti tip-ex, cutter, penggaris, sampai buku catatan. Mereka baikan hati dengan kita, hampir setiap hari membagikan permen kepada kami.

Selasa sore, pada jam Pramuka, Mbak Wiwin terasa begitu perhatian to me. Dia meminjam buku catatanku, suatu hal yang biasa, tetapi kurasakan perhatian kepadaku berbeda dari biasanya.

Mbak Mila dan Mbak Wiwin adalah teman yang sangat akrab. Mereka sangat saling terbuka satu sama lain dalam hal apa saja. Barang-barang yang mereka pakai pun banyak yang sama, seperti anak kembar walaupun sebenarnya tidak. Mbak Mila sangat pendiam, sedangkan Mbak Wiwin seperti seorang ibu saja (baca: keibuan). Mereka berangkat sekolah, pulang, jajan, dan lain-lain selalu bersama.

Tanggal 9 Januari Tri Wulanjari ulang tahun. Acara makan-makan, aku dan Ronny mendapat bagian lebih akrena Dudun dan Jamal sedang berpuasa. Ronny terserang flu, sedangkan dia lupa membawa sapu tangan. Aku minta tissue kepada Mbak Wiwin, tidak diberi. Mungkin dia marah aku tidak duduk di bangku di belakangnya lagi. Mbak Mila langsung tanggap dengan memberiku tissue. Trims, kataku. Aku dan Ronny duduk di belakang Mbak Asih dan Marni.

Pada jam Fisika, kami berenam (aku, Ronny, Dudun, Jamal, Mbak Asih, dan Marni) tampak ramai mengerjakan soal. Pada jam Ekonomi Mbak Asih diberi pertanyaan dan tidak bisa menjawabnya. Waktu itu aku dan dia sedang bercakap-cakap (baca: ngobrol), jadi tidak memperhatikan pelajaran. Sorry, Mbak, because of me you loose your identity. Lain dengan Mbak Asih, ninja yang satu lagi, Marni, lebih banyak diam, hanya kadang-kadang saja nimbrung.

Di meja di belakangku (Jamal dan Dudun) tidak terdapat buku Ekonomi. Aku diminta mencari pinjaman. Aku berkata kepada MArni bahwa Jamal memanggilnya. Marni tidak menoleh. Begitu terus sampai yang ketiga.

Tindak lanjutku, bukuku aku pinjamkan ke belakang dan aku meminjam buku Mbak Asih. Bukunya masih baru. Jarang dibuka, ya? Saya dan Mbak Asih ahri itu banyak ngobrol daripada memperhatikan pelajaran.

Pada tanggal 12 Januari Dudun, Jamal, dan Mbak Asih berpuasa. Keesokan harinya, hari Jumat, aku membawa kembang gula untuk dibagikan kepada teman-teman, termasuk Mbak Asih dan Marni. Mbak Asih, anak mama, tidak boleh makan yang manis-manis. Nanti giginya keropos, ya? Tetapi dia tidak menolak pemberianku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: