Oleh: kaveleri | 26 Februari 2007

Rindu Al-Qur’an

Rekan kerjaku, sebut saja namanya Kirana, menangis tersedu-sedu setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari sebuah rumah di dekat tempat dia menginap.

Ibu beranak tiga itu sedang menginap di tumah saudaranya di daerah Dago, Bandung week end kemarin.

Dia termasuk orang yang sukses dalam berbisnis di samping pekerjaannya di sebuah departemen. Butiknya tersebar di beberapa mal di Jakarta. Selain itu di Bandung dia punya bisnis rental mobil. Itu yang aku tahu. Mungkin itu belum semuanya.

Jadi, mungkin dia sedang menengok usaha bisnisnya di Bandung, sekalian liburan.

Dia sekeluarga menginap di rumah kakaknya di sebuah rumah di slah satu perumahan elit di Dago. Waktu subuh, dia mendengar suara seorang pria sedang bertilawah Al-Qur’an. Suara itu bukan dari musholla, tetapi dari rumah sebelah.

Dia bangun dengan menangis karena merasakan nuansa yang lain. Di kawasan perumahan elit di Bandung, masih ada orang yang mengaji di waktu subuh, waktu yang sekarang banyak dilalaikan kebanyakan orang kota.

Orang kota biasanya mempunyai pola waktu yang berbeda dengan orang desa. Mereka biasa tidur sampai larut tengah malam, bahkan sampai dini hari baru beranjak tidur. Aktivitas yang “menyibukkan” seperti pulang kerja sampai larut malam, ditambah dengan aktivitas lainnya seakan memberikan pembenaran mereka untuk tidak segera tidur. Tentu saja waktu subuh banyak yang terlewat.

Mbak Kirana jadi tergugah, terbangun, lalu sholat subuh. Dia mencari-cari muhaf Al-Qur’an untuk melepas kerinduannya, tetapi tidak ketemu.

Jika di sebuah desa terdapat fenomena seperti itu, mungkin masih biasa kita temui. Di perkotaan yang “bukan kawasan elit” juga masih bisa kita temui hal yang demikian itu. Tetapi, yang membuat dia menangis adalah ditemuinya fenomena itu di tengah kawasan elit di tengah kota. Subhanallah.

Kami teringat suasana di kampus dahulu, setelah sholat subuh anak-anak kos-kostan biasanya membuka mushaf dan membacanya beberapa lembar. Suatu tradisi yang agung, yang perlu terus kita lestarika di tengah-tengah arus modernisasi di kota metropolitan ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: