Oleh: kaveleri | 21 Februari 2007

Alhamdulillah, aku masih tetap bisa menegakkan kepalaku.

Alhamdulillah, aku masih tetap bisa menegakkan kepalaku.

Pagi ini, aku kembali mendapatkan kenikmatan dari Allah. Bagaimana, sih, rasanya jika kita diberi orang segepok uang. Tentu kita sangat senang dan berterima kasih kepada orang yang memberi kita tersebut.

Akan tetapi, aku merasakan mendapatkan kenikmatan ini bukan karena aku menerima uang tersebut. Aku merasakan nikmat Allah justru karena aku kembali bisa menolak pemberian uang itu.

Baru saja, sekitar jam setengah sebelas pagi ini, aku disodori amplop oleh seorang Wajib Pajak perusahaan modal asing. Dia menodorkan amplop putih kepadaku. “Pak, ini dari Boss saya.” Aku katakan bahwa aku tidak mau menerimanya. Aku jelaskan bahwa aku hanya mengerjakan pekerjaanku. Ibu itu agak bingung. “Terus, ini gimana Pak?” Maklumlah, dia takut kepada bossnya kalau uang tersebut tidak sampai kepadaku.

Aku katakan kepadanya agar itudikembalikan kepada bossnya. Dan aku berpesan untuk bossnya untuk tidak lagi berbuat demikian. Memang, ada kedua belah pihak yang saling membutuhkan. Perusahaan merasa terbantu sehingga memberikan “upeti” kepada karyawan. Sedangkan karyawan sendiri sebagian masih bermental kurang baik.

Akhirnya ibu itu mau mengerti, tetapi dia tidak berani mengembalikan uang itu kepada bossnya. “Saya sedekahkan saja, ya Pak, tapi ini terlalu banyak.” katanya.

Aku teringat ibu yang semalam meneleponku dari kampung. Beliau minta aku untuk membantu beliau membeli sawah. Cukup besar, sih, nominalnya. Karena masih bisa ditunda sampai enam bulan ke depan, aku menyanggupinya. Kalau dihitung-hitung dari kelebihan penghasilan bulananku tiap bulan, paling banyak hanya bisa terkumpul setengah dari yang diminta ibu. Pusing deh. Alhamdulillah aku sadar bahwa uang yang disodorkan kepadaku itu merupakan godaan dan cobaan. Apa aku kuat atau tidak di tengah himpitan keperluan yang membuatku pusing itu.

Aku menjawab, “Terserah, yang penting saya tidak mau menerima uang ini.”

Akhirnya dia berpamitan pergi. Dan aku pun berjalan kembali ke mejaku dengan kepala tegak. Alhamdulillah.


Responses

  1. Salamualaikum wr wb

    Blog yang bagus…salam kenal dari salafyindonesia.wordpress.com

    Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: