Oleh: kaveleri | 23 Januari 2007

Banjir Kembali Mengancam Jakarta

Banjir lima tahunan kembali mengancam ibukota Jakarta. Mulai awal tahun baru Hijriyah Sehari-hari” menunjukkan intensitas yang meningkat setelah sejak tahun baru Syamsiyah nyaris tidak ada hujan. Bahkan suhu udara ketika itu bisa sampai 36-40 derajat celcius.

Awan hujan yang terbentuk di atmosfer tersapu arus angin yang kecepatannya melebihi kecepatan wajar. Sehingga, buyarlah awan itu dan tidak jadi turun hujan. Ditambah lagi ketika bulan Januari posisi bumi terhadap matahari adalah pada posisi yang paling dekat. Sehingga wajar ketika awal sampai pertengahan Januari –yang ketika itu awan di langit yang melindungi kita dari sengatan matahari sangat berkurang– kita merasakan kulit kita seperti terbakar ketika berjalan di siang hati tanpa pelindung.

Pagi tadi aku mendengar dari Radio Elsinta bahwa di daerah kampung melayu sudah terjadi banjir dari Sungai Ciliwung. Memang ketika aku melewati jembatan Sungai Ciliwung di Kalibata terlihat permukaan air sungai sudah naik hampir penuh. Subhanallah.

Banjir besar terakhir terjadi pada tahun 2002, lima tahun yang lalu pada awal bulan Februari. Dan siklus lima tahunan ini menurut perkiraan para pengamat akan terjadi lagi. Berarti bulan-bulan ini akan terjadi banjir besar lagi.

Pada tahun 2002, aku pun termasuk salah satu korban banjir. Waktu itu aku tinggal bersama teman (masih pada bujangan) di sebuah rumah teman temanku itu di daerah Cimanggis, Depok.

Pada tengah malam, ternyata air sudah menyusul sampai hampir setinggi tempat tidur. Untunglah barang-barang kami sempat kami selamatkan, walaupun satu dua ada yang tercecer.

Banjir tersebut membuat kami mengungsi ke masjid kantor, dan tinggal di sana bersama marbot masjid selama beberapa bulan. Aku mengakhiri pengungsian di masjid ketika aku menikah pada bulan April 2002. Sedangkan temanku karena belakangan menikah, jadi lebih lama mengungsi di masjid.

Ternyata, temanku ada yang mengalami kejadian lebih parah. Kost-kostan lantai satunya terndam banjir. Untung dia berada di lantai dua. Yang di lantai satu adalah kelaurga ibu kost. Setelah menikahpun, dia yang baru memboyong isteri dari kampung belum lama mengontrak di dekat kost-kostannya dulu juga mengalami kejadian serupa. Motornya sempat terendam banjir. Akhirnya dia dan isterinya mengungsi ke kost-kostan teman lainnya.

Memang ini adalah kejadian rutin yang seharusnya sudah bisa ditanggulangi oleh pemerintah, kalau mau. Akan tetapi, melihat karakter pemerintah dan manusia Indonesia yang masih belum banyak berubah, aku agak pesimis program penanggulangan banjir akan bisa terealisasi dengan baik dengan tujuan tunggal yaitu terbebasnya warga Jakarta dari banjir.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: