Oleh: kaveleri | 18 Januari 2007

Mari Shalat Berjama’ah

Betapa mudahnya kita mencari masjid (termasuk mushalla) di Jakarta. Hampir di setiap RT ada masjid. Ketika waktu shalat tiba, berkumandanglah adzan di mana-mana. Kumandang itu tidak hanya dari satu dua speaker, tetapi bisa jadi dari lima atau enam corong suara masjid. Subhanallah.

Akan tetapi tidak semua muslim yang mendengar seruan Allah itu terpanggil dan mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah.

Kesadaran sebagian kaum muslimin akan pentingnya shalat berjama’ah –yang dalam sebuah hadits diterangkan jika manusia tahu keutamaan shalat berjama’ah, dia akan mendatanginya, walaupun dalam keadaan merangkak– masih belum tumbuh. Buktinya dapat kita lihat pada shaf-shaf shalat di masjid.

Pengaruh globalisasi juga terasa sampai ke rumah-rumah kaum muslimin. Mereka terkotak-kotak dalam batas administratif seperti RT/RW, desa/kelurahan. Jarang muslim yang sedang mukim di suatu wilayah administratif shalat di masjid seberang (lain RT/RT atau desa/kelurahan). Sehingga jika di suatu RT,misalnya, tidak terdapat masjid/musholla kebanyakan masyarakat memilih shalat di rumahnya daripada harus shalat di masjid lain RT.

Fenomena lainnya adalah adanya sebagian “ahli agama”, seperti yang biasa disebut “ustadz” yang jarang shalat lima waktu di masjid. Mereka lebih sering kelihatan di masjid waktu Shalat Jumat saja.

Ada cerita ironi yang aku dengar dari seorang teman. Seseorang mencari alamat seorang “ustadz” untuk suatu keperluan. Karena belum tahu alamat persisnya, dia mencari masjid di sekitar alamat rumah “ustadz” tersebut. Dalam pikirannya dia berharap akan bertemu “ustadz” di masjid atau kalaupun tidak ada di masjid dia bisa menanyakan alamatnya kepada salah satu jama’ah di masjid itu.

Akan tetapi, ternyata “ustadz” itu tidak dikenal oleh jamaah masjid. Bahkan beliau jarang/tidak pernah shalat di masjid itu. Subhanallah.

Ada anekdot yang berkembang di sebagian ikhwah, setelah kejadian pemboman AW Restoran di Mal Kramat Jati Indah beberapa waktu yang lalu. Pelaku bom tersebut selamat. Ternyata dia itu seorang yang rajin beribadah, rajin shalat di masjid, rajin mengaji. Kemudian, orang-orang pada menebak, siapa dia. Ada yang menjawab, bahwa pelaku pemboman itu pasti bukan ikhwah. Alasannya adalah karena ikhwah sekarang sudah nggak rajin shalat berjamaah dan nggak rajin mengaji (membaca Al-Qur’an) lagi. Gubrak! Aku sendiri tidak setuju seratus persen dengan sindiran ini, walaupun fenomena ini mesti harus kita waspadai.

Memang masih ada beberapa kekurangan yang kita temui di masjid-masjid kita. Pertama, masalah kebersihan masjid termasuk toilet. Seorang dai terkenal pernah menyindir kejorokan kita dengan mengatakan bahwa untuk mencari masjid cium saja yang bau-bau (maaf, maksudnya bau pesing).

Yang kedua, mengenai ketepatan waktu shalat. Poros putar bumi terhadap matahari tidak tegak lurus. Hal ini mengakibatkan salah satunya waktu shalat yang berdasarkan matahari dari hari ke hari berubah-ubah secara periodik tahunan. Kadang-kadang waktu shalat Isya’ jam tujuh malam kurang. Kadang-kadang lebih dari jam setengah delapan malam baru masuk waktu Isya’. Beberapa masjid masih secara tradisional menentukan waktu shalat dengan berpedoman pada jam. Pokoknya waktu shalat Isya’ itu jam tujuh malam. Padahal, jadwal shalat selama setahun sudah banyak tersebar. Televisi dan radio pun juga sering memperdengarkan suara adzan (walaupun sebagian besar hanya untuk shalat maghrib doang). Dan satu lagi, masjid itu berada di tengah kota besar. Kan berabe kalau pas jadwal waktu shalat Isya’ jam setengah delapan lewat masjid itu sudah selesai shalat Isya’ jam tujuh seperempat. Ini mengenai sah dan tidahnya shalat. Shalat sah salah satunya jika dikerjakan pada waktunya.

Berikutnya, jeda waktu antara adzan dan iqamah hanya sebentar, sekitar dua rekaat ringan saja. Sehingga untuk orang yang letak rumahnya dengan masjid cukup jauh atau untuk orang yang masih harus BAK dulu rawan menjadi makmum masbuk. Apalagi untuk shalat subuh, dengan logika orang bangun tidur karena mendengar adzan subuh. Setelah itu dia tidak bisa langsung ke masjid. Mungkin kucek-kucek mata dulu, melihat jam, pergi ke toilet, wudhu, lalu shalat sunnah fajar. Baru pergi ke masjid. Bukan tidak mungkin ketika dia sampai di masjid tinggal salam saja. Kalau tidak mengerjakan shalat sunnah fajar dan langsung ke masjid berarti dia meninggalkan shalat sunnah yang pahalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Al-Ustadz Daud Rasyid Sitorus dalam sebuah acara pernah mengatakan, idealnya, jarak waktu antara adzan dan iqamah itu sekitar 15 sampai 20 menit. Jadi, tidak banyak makmum yang masbuk seperti sekarang. dan ini akan meningkatkan semangat jamaah ke masjid karena dia berfikir bahwa pasti belum telat shalat berjamaah.

Berikutnya, sering kita temui bacaan imam yang belum sesuai dengan tajwid. Memang ini karena kemungkinan memang tidak ada yang lain yang mau memimpin shalat berjamaah.

Tata cara dzikir yang tidak sesuai juga agak mengganggu bagi jamaah yang tidak biasa. Terus terang, saya sejak kecil dibesarkan bukan di lingkungan yang menjaharkan dzikir dan doa setelah shalat fatdhu. Jadi agak terganggu dengan masjid yang di dalamnya ada dzikir dan doa setelah shalat secara jahr.

Betapapun masih banyak kekurangan yang kita temui di masjid-0masjid kita, bukan berarti kita meninggalkan mereka. bahkan dengan kehadiran kita diharapkan kekurangan-kekurangan itu seduikit demi sedikit bisa kita kurangi.

Pernah seorang teman mengirim email yang berisi slide shalat berjamaah di berbagai negara yang karena susahnya mencari masjid sampai ada yang shalat di jalanan, di trotoar, di stasiun kereta api, dan sebagainya. Mereka bersemangat shalat berjamaah walaupun kondisinya jauh dari ideal, yaitu di masjid. Banyak pula walaupun kondisi perang, tetap mempertahankan syariat shalat berjamaah. Apalagi kita yang secara umum dalam keadaan aman.

So, mari kita shalat berjama’ah.


Responses

  1. Assww..
    Tulisan antum ini cukup menggugah..Insya Allah
    Salam kenal…

  2. gambar2 shalat dlm berbagai keadaannya diposting juga donk, biar bisa jadi bahan muhasabah buat para ikhwah, biar pada tau kalo shalat b-jama’ah itu menjadi benda langka ditempat lain…

  3. Ini ada TAUQOLY, jadwal sholat elektronik khusus untuk masjid dan musholla, bisa diperoleh di http://www.mauqutaaabdia.com
    http://www.mauqutaaabdia.com
    http://www.mauqutaaabdia.com
    http://www.mauqutaaabdia.com

  4. Ya mari kita galakkan shalat berjamaah dari kalangan keluarga kita sendiri, berprinsiplah seperti sapu lidi, makin banyak jumlah lidi yang bersatu dalam ikatan, makin bertambah kuatlah kita (muslimin, muslimat)

    • Salah kalau sholat berjamaah dilaksanakan di rumah itu sama dengan gambar sinetron yang sok santri, tapi seharusnya sholat yang banyak pahala adalah di masjid. Istri kita bisa sholat di rumah dan Islam tidak mengajarkan perempuan sholat berjamaah di masjid atau musho;a

  5. saya pengen nanya sm uang lebih tahu, apkah seorang ibu rumah tangga juga diwajibkan untuk sholat kemesjid

  6. setauku tidak wajib, lebih afdol di rumah

    kalau perempuan ingin pergi ke masjid juga tidak boleh dilarang, cmiiw

  7. Video 3gp sholat berjamaah
    di
    http://assalambook.as.funpic.org/VIDEO/

    isi:
    Ancaman_dan_Keutamaa..> 2.1M
    [VID] Ayo_Sholat_Berjamaah..> 1.6M
    [VID] Luruskan_dan_Rapatka..> 1.0M
    [VID] Menggapai_Sholat_Khu..> 220K
    [VID] Mengikuti_Imam.3gp > 1.8M
    [VID] Sunnah_Menuju_Masjid.. > 620K

  8. @M. Ihsan
    terima kasih atas link video sholat berjamaahnya. semoga bermanfaat bagi kita semua.

  9. saya ada 2 gambar cara menyusun shof sholat berjamaah yang sesuai Sunnah Nabi SAW
    bisa di lihat di :

    1. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/932493711
    2. http://www.friendster.com/photos/84262494/1/300979820

    semoga bermanfaat, jazakallah khoir
    atau email ke : shof_sholat@yahoo.com

  10. Smua hdist yg d tlis tntng shalat tuch shahih ga’?? Pemahaman dri madzhab pa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: