Oleh: kaveleri | 11 Maret 1994

Menjelang Lebaran

Jumat, 11 Maret 1994
Di malam ini aku ingin cerita lagi. Aku kini sudah tidak kacau lagi. Puasa tahun ini telah kurasakan manfaatnya. Sebelumnya, puasaku hanya gitu-gitu saja, tidak ada peningkatan pribadi yang berarti. Aku sudah menjalankan puasa hampir satu bulan, tepatnya 28 hari. Besok hari ke-29. Mulai tanggal 8 s.d. 22 Maret 1994 sekolah libur.
Cerita kali ini tidak urut, tetapi jelas. Tiap bulan aku mendapat uang saku 5 ribu rupiah dari kakek, kadang lebih. Uang tersebut kali ini kugunakan untuk membayar SPP lebih dulu. Walaupun akir-akhir ini ibu sering belanja ke Solo (banyak uang), beliau belum memberiku uang SPP. Nunggu ‘suk panen, bar ba’da!

Malam Minggu Wage setelah shalat Tarawih aku mengahdiri perteman Karang Taruna Dukuh Tunggul Kalang. Dalam rapat ini diputuskan tentang pakaian seragam dan masalah kebersihan.

Sore tadi aku nonton You Asked For It, lalu membangunkan Mbak Uwit. Bapak dan ibu ke pasar, jadi harus memasak sendiri. Acara selanjutnya Asia Bagus. Pemenang pada babak final itu adalah seorang putri Indonesia dengan 99 points. Wow! Pukul 16.00 Cepat Tepat SLTP, kuganti chanelnya ke Stasiun Yogyakarta, Kuis Widya Siswa. Penuh humor dan hadiah. Mbak Uwit menyuruhku membeli kecap, aku tak mau. Hi..hi..hi..!
Saat aebelu berbuka puasa aku bangun tidur siang, eh, sore, ding! Bapak dan Ibu sudah pulang. Mungkin lagi seret karena hujan (Kok nggak licin, ya?).

Hampir semua yang terhidang di meja makan habis. Sesudah berbuka aku mandi (kaya’ kebo). Setelah mandi, berpakaian, lalu sholat Maghrib. Aku megnantarkan gula dan teh ke rumah Simbah dan meminjam 10 liter beras untuk zakat. Masjid sepi, hanya anak-anak kecil bermain-main di halaman masjid.

Bulan Romadhon sudah usai. Bagaimana perasaan Anda? Di semua masjid terdengar takbir yang tak henti-hentinya sejak sunset. Ba’da Isya, kami, led by Sdr. Dayoko, membagikan zakat fitrah ke RT 02, sedangkan sebagian yang lain ke RT 01. Selepas membagikan zakat, kami makan bersama di teras Pak Hadi (Masjid penuh, sih!).
Beberapa saat setelah itu kami diberi amanat mengeluarkan hidangan without the pack.
Pukul 9 kurang kami takbiran. Pukul 9 Wahyu pulang karena tidak ingin kepancal World in the News. Pukul 11 malam aku tidur setelah sebelumnya menyaksikan lawak Tarzan dkk.

Sehubungan dengan arus mudik, kampungku pun kedatangan para pemudik dari kota-kota luar dan dalam Jawa. Mereka pulang ke orang tua mereka, kakek nenek mereka, kuburan ortu atau kakek nenek mereka, dan saudara-saudara mereka.
Invasi pemudik sudah banyak pada awal Romadhon, tetapi yang terbanyak sejak 3 hari menjelang lebaran, yaitu mulai hari Jumat.

Sejak seminggu sebelum lebaran orang-orang membersihkan rumah dan semua yang ada di dalam rumah. Aku memberishkan rumahku pada hari Minggu, 6 Maret 1994.
Begitulah suasana menjelang lebaran di desaku. Sekarang aku harus cabut karena harus mengisi bak mandi. Jam menunjukkan pukul 4.17,75.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: